
Kita ketahui bersama sekitar tahun 1596-1597 Belanda menginjakan kakinya di Nusantara, sejak itu pula Belanda mulai menyebarkan pengaruhnya untuk berkuasa di seluruh wilayah Nusantara, termaksud Maluku Utara. Pada 20 maret 1602 VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) dibentuk, sebagai Perusahaan dagang Belanda dan menjadi kekuatan utama perdagangan di Asia pada saat itu. Dengan tiga kebijakan VOC yang ditarapkan yaitu Sewa Tanah (Randrent), Tanam Paksa (Cultuurstelsel) dan Politik Balas Budi (Politik Etis) menjadi babak baru perkembangan Kapitalisme di Nusantara. Tidak hanya di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dll, Belanda juga juga melakukan perluasan VOC ke Maluku Utara untuk merampas hasil rempah-rempah yang melimpah. Ketika tanggal 7 maret 1942 penjajah Belanda menyerah kalah dari angkatan perang Dai Nipon Jepang, berakhirlah penjajahan Belanda selama 350 tahun. Dan lahir pula suatu zaman baru, zaman dimana penindasan dengan cara yang baru pula. Pendaratan Jepang di Ternate terjadi pada hari sabtu bulan April 1942, Ternate mungkin kota terakhir yang tidak ada perlawanan saat pendaratan Jepang. Selanjutnya mereka berangkat ke Halmahera untuk membangun basis perang di Kao Halmahera, sampai hari ini masih ada sisa-sisa peninggalan Kapal Perang Jepang di teluk Kao.
Dalam banyak literatur gerakan rakyat Indonesia, jarang menyinggung sejarah perjuangan rakyat Maluku Utara. Namum dalam beberapa referensi, rakyat Maluku Utara memberikan konstribusi yang sangat penting dalam sejarah perlawanan mengusir penjajahan Kolonialisme, baik Pra Kemerdekaan 1945 dan Paska Kemerdekaan. Ini dibuktikan dari beberapa kemunculan Organisasi perlawanan di Maluku Utara pada tahun 1920-an, seperti Organisasi Politik pertama di Maluku Utara “Budi Mulia hingga Barter senjata dengan Kopra”. Organisasi ini berkantor dirumah tinggi kampung Falajawa, Ternate Selatan. Organisasi Budi Mulia dibawahkan oleh seorang pemuda yang bernama mas Gondo dan beberapa Putra asal Ternate termaksud Mansur Batjo pada akhir tahun 1925 saat meraka tiba di Ternate dari Jawa.
Perlawanan terhadap eksploitasi hak-hak hidup manusia di era Kolonialisme Belanda sangat masif termaksud di Maluku Utara. Pergerakan dan kebangkitan dengan corak yang lebih moderan mempunyai jangkauan yang lebih luas diseluruh tanah air. Kehadiran Budi Utomo, Syarekat Islam, Indische Party dan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) hingga berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1920 merupakan salah satu kejutan pihak penjajah Belanda. Syarekat Islam sebagai satu-satunya Partai Politik pertama yang meluas dengan cepat, menyebarkan azas dan tujuan ke seluruh pelosok Nusantara. Pada tahun 1925 mayarakat Ternate sudah mengenal organisasi ini, anggota-anggotanya sudah tersebar di berbagai kampung di Ternate. Dipelataran Mesjid Arab (Muttaqin) selalu dilakukan diskusi-diskusi bila ada tamu dari Sulawesi Utara. Dengan demikian, dapat dicatat bahwa sejak tahun 1925, Gerakan Nasional yang moderen mulai dikenal rakyat Maluku Utara.
Sejarah bukanlah semata-mata suatu rentetan peristiwa yang tidak mempunyai arti, tapi termanifestasi dalam satu gerak material yang berkembang. Begitupun dengan perlawanan rakyat Maluku Utara, ia tidak muncul begitu saja, tapi atas dasar historis dan situasi objektif yang membuat rakyat tersadarkan dan melawan.
Munculnya Organisasi dan Surat Kabar (Koran) :
Organisasi Budi Mulai adalah salah satu langkah awal yang mengajarkan rakyat Maluku Utara akan arti Organisasi dan Partai, cinta tanah air dan pembebasan nasional. Dengan kecerdasan dan kelincahan berpidato mas Gondo berhasil menarik simpati dari pemuda-pemuda Ternate dan sekitarnya. Setiap hari kantor mereka banyak dikunjungi oleh pemuda untuk mendengarkan cerita-cerita dari mas Gondo tentang kepahlawanan Sultan Babullah dan kejayaan Kerajaan Ternate yang pernah menguasai sebagian besar Indonesia bagian timur sampai ke Mindanao Filipina bagian utara dan Baggai bagian selatan. Entah siapa mas Gondo itu, sampai saat ini pun belum ada yang mengetahui jati dirinya, apakah beliu adalah salah satu pimpinan Partai Komunis Indonesia seperti Tan Malaka, Samaun dll “bisa jadi ia dan bisa jadi tidak”. Sebab, satu-satunya tokoh pergerakan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1920-an sebelum terjadi pemberontakan 1926 yang sering bergerliya dibeberapa daerah Nusantara dan berganti-ganti nama hanyalah Tan Malaka.
Pada bulan Oktober 1926, polisi Belanda mengetahui sepak terjang Organisasi Budi Mulia adalah salah satu Organisasi Gerakan Komunis yang siap mengadakan perlawanan di suluruh Nusantara, sehingga pada saat itu pula kantor mereka di serbu dan menangkap semua orang yang berada di kantor itu. Setelah beberapa hari ditangkap kemudian mereka dilepaskan kecuali 15 orang masih disekap, kemudian di asingkan ke Boven Digoel. Apakah mas Gondo juga di asingkan ke digoel juga tidak ada yang tau.
Setelah pemberontakan prambanan yang dilakukan oleh kelompok PKI muda “Muso, Alimin dkk” di pulau Jawa pada November 1926-1927, yang kemudian mengalami kegagalan dan pembunuhan bahkan pembuangan anggota-anggota maju PKI seperti Hi. Misbach, Samuan dll. Kemudian juga berpengaruh sampai ke Ternate, sehingga terjadi penangkapan kepada pemgikut-pemgikut Organisasi Budi Mulia, bahkan rumah-rumah rakyat dimasuki oleh Polisi Belanda untuk mencari orang-orang yang dicurigai yang berhubungan dengan Organisasi tersebut.
Selain Organisasi Budi Mulia, sekitar tahun 1930-an masuk Partai Nasional Indonesia (PNI) di Maluku Utara yang dibawahkan 3 orang propagandis dari Jawa, karena situasi dalam keadaan yang represif mereka menggunakan media selebaran dalam aktifitas politiknya, selebaran-selebaran tersebut intinya bertujuan memperjuangkan Indonesia merdeka. Disamping brosur-brosur Partai, mereka juga sebarkan Surat Kabar dari Jawa dengan berita-berita yang hangat untuk membakar semangat perjuangan rakyat Maluku Utara yang sudah mulai kendur, akibat peristiwa Budi Mulia. Nama-nama dari tokoh pejuang terkemuka seperti Hi. Agus Salim, Umar Said Tjokroaminoto, Tan Malaka, Dr. Sutomo, Hi. Misbach, IR. Soekarno dan lainnya sudah tidak asing lagi bagi penduduk Kota Ternate dan sekitarnya. Dengan semangat baru rakyat Kota Ternate alihkan kegiatan ke bidang pendidikan dan sosial.
Ditahun 1939 suhu politik di Ternate makin hangat. Selain berdirinya Organisasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) Cabang Ternate yang dipimpin Ahmad Syehan Bachmid bersama dengan Hamid Bin Syech Abubakar, Salim Alhadar dan beberapa tokoh lainnya. Dalam bulan Oktober 1941 terbentuk pula Cabang Gabungan Politik Indonesia (GAPI), suatu Federasi dari Partai-Partai Politik di Indonesia, yaitu Perindra (Partai Indonesia Raya), Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), PSII (Partai Serikat Islam Indonesia), PP (Persatuan Perjuangan) Tan Malaka yang sempat menggabungkan 140-an Serikat, Laskar, Partai dan beberapa Organisasi lainnya. Pimpinan GAPI Arsyad Hanafi, M.S Djahir, Nurdin Iskandaralam dkk.
Pada bulan November 1945 setelah Indonesia Memproklamirkan Kemerdekaan, roda Pemerintahan Daerah dibawah pimpinan Sultan Ternate sebagai Penguasa Militer setempat dan selaku Pemerintahan Sipil Belanda CONICA (Commanding Officer Nederlands Indies Civil Administration), maka Sultan Ternate menyarankan agar dapat dibentuk suatu Organisasi Politik agar menunjang pemerintahan baru dan dapat mengamankan Politik Belanda untuk Daerah Maluku Utara. Partai yang disarankan itu diberi nama PERSATUAN INDONESIA disingkat PI. Ditunjuk sebagai ketua adalah Prins Nasir Syah dan dibantu staf yang terdiri dari : M. Ali Kamaruddin (Om Sau), Abdullah Badir, Arnold Mononutu dsb.
Namum dalam Anggaran Dasar PI tercantum pendirian yang plin-plan, dimana ada penegasan bahwa PI akan turut memperjuangkan Indonesia dibawah naungan kerajaan Belanda (Negera Indonesia Timur). Hal ini kemudian mendapat protes yang keras dari beberapa pemuda/anggota PI, kemudian dalam rapat dikantor MHV (Molukshe Handel Vernootschap) pemuda-pemuda mendesak Anggaran Dasar Partai dirubah, bapak Arnold Mononutu keluar dari meja pimpinan sidang dan menyatakan Anggaran Dasar bisa dirubah berdasarkan suara terbanyak, maka pada Desember 1945, lebih dari 75% anggota PI membuat resolusi menuntut perubahan Anggaran Dasar. Sehingga pada tanggal 20 Desember 1945, diumumkan Partai Persatuan Indonesia di Maluku Utara dengan tujuan yang tercantum dalam Anggaran Dasar yaitu tegas menyatakan memperjuangkan Negera Republik Indonesia yang bebas dan merdeka 100%. Dengan dirubah haluan perjuangan PI membuat Prins Nasir Syah kakaknya Sultan dan Prins Hasan Ayahnya paman Sultan memundurkan diri sebagai Ketua PI, sehingga untuk sementara Pimpinan Partai diserahkan pada Bapak Arsyad Hanafi dkk. Dengan demikian, ternyata PI dibentuk sebelumnya untuk membangun kompromi dengan Kerajaan Belanda untuk membentuk Negera baru yaitu Negera Indonesia Timur (NIT). Namun, PI berhasil diambil alih oleh kelompok pemuda yang punya cita-cita Pembebasan Nasional dan Merdeka 100%.
Untuk merapikan Partai dan menghindari ancaman dari pihak Belanda, tanggal 9 April 1946 perubahan badan pengurus pimpinan PI dilakukan. Yang sebelumnya ketua Partai Arsyad Hanafi digantikan oleh Dr. Chasan Busoiri dengan Sekertaris Jendral Arnold Mononutu berserta pembantu Zen Assagaf, Supit Rumopa dan kawan-kawan dan Ketua Kehormatan M. Ali Kama (Om Sau). Karena pergerakan PI semakin masif maka Sultan Ternate memanggil Chasan Busori sebagai ketua PI untuk menghadap, dalam pertemuan itu Sultan Ternate meminta suatu jaminan bahwa PI dalam perjuangannya tidak akan membuat kekacauan dan keributan apapun. Berangkat dari pelarangan itu, PI membentuk seksi Pemuda dengan Pimpinannya A.L Rompies dan Taher Zougira, seksi pemuda ini bertugas membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), TKR juga mempunyai hubungan dengan PP (Persatuan Perjuang) di Jawa, karena TKR menjadi salah satu laskar yang tergabung di dalam Persatuan Perjuangan Tan Malaka yang dibentuk pada 3 januari 1946 dengan 7 minimum Program, salah satu Programnya ialah “berunding atas dasar pengakuan kemerdekaan 100%”.
Dengan semangat Kemerdekaan 100%, dalam waktu satu tahun anggota dan Cabang PI bertambah dan tersebar keseluruh pelosok daerah Maluku Utara. Dari 9 Cabang yang terbentuk pada akhir tahun 1946 adalah 10.000 yang menjadi anggota PI dan sudah mempunyai kartu anggota terdaftar sebagai berikut : Cabang Ternate 3.000 anggota, Cabang Tobelo/Galela 500 anggota, Cabang Tidore 1.500 anggota, Cabang Bacan 1.500 anggota, Cabang Makian 1.000 anggota, Cabang Sanana 1.500 anggota, Cabang Weda 500 anggota, Cabang Jailolo 500 anggota, Cabang Morotai dll. Dari semua Cabang yang telah ada, terdapat 3 orang pimpinan Cabang yang aktif dan militan dalam kegiatannya karena sering mendatangi wilayah-wilayah lain untuk berpropaganda membakar semangat rakyat dengan biaya mereka sendiri tanpa dana dari Partai. Para pimpinan tersebut ialah Ismail Sjahjoan dari Cabang Sanana, Yap Tek Hang dari Cabang Tidore dan Muhammad Dji Husin dari Cabang Weda. Selain mereka bertiga, pimpinan lain pun tidak kalah militan, dimana sampai pada akhir perjuangan mereka tetap pada pendirian Kemerdekaan 100% membebaskan diri dari Kolonialisme sekalipun mereka secara terus menerus di intimidasi oleh kaki tangan Penjajah Belanda.
Selain organisasi-organisasi perlawanan tersebut, terbentuk juga media alternatif atau Surat Kabar (Koran) sebagai media propaganda untuk membakar semangat perjuangan rakyat Maluku Utara, Surat Kabar diantaranya yaitu Mingguan Sentosa dengan pimpinan redaksinya Ahmad Syehan Bachmid dan Utusan Kita dipimpin Frederk Kansil. Selain mingguan Sentosa, ada juga Media Mingguan Kebangunan Timur, namum dalam terbitan nomor 16 mingguan tersebut diberhangus dan selanjutnya dilarang terbit lagi. Larangan terbitan disebabkan karena memuat tulisan dari M. Husni Thamrin yang dianggap telah menghina pemerintahan Belanda di Indonesia. Tidak hanya mingguan Sentosa dan mingguan Kebangunan Timur, tapi Partai PI pun membentuk media (Surat Kabar Mingguan) yaitu “Menara Merdeka” sebagai satu-satunya trompet propaganda Partai Persatuan Indonesia (PI) yang bisa menjangkau anggota dan rakyat Maluku Utara akan arti penting kebangsaan dan Kemerdekaan 100%.
Munculnya Sekolah Rakyat :
Di tahun 1937, suhu politik di Maluku Utara (kota ternate) naik. Sekolah Swasta Nasional didirikan atas inisiatif putra-putri kampung Santiong yang diberi nama BAPMAN, Sekolah dikordinir oleh bapak Ahmad Bian dan mendapat banyak perhatian, karena banyak peran guru-guru yang terkenal dan berjiwa Nasionalis. Dengan jiwa nasionalis itulah, mereka mengajarkan kepada murid-murid semangat cinta tanah air dan perjuangan pembebasan Nasional. Lewat sekolah ini, rakyat diajarkan akan arti perjuangan sebuah bangsa melawan penjajah Belanda yang telah merampas hak suatu bangsa dan sekaligus dengan harta kekayaan alamnya.
Tidak lama kemudian, didirikan lagi sekolah Madrasah yang kedua di Ternate sebagai penambah Madrasah Islamyah yang telah ada. Sekolah Raudhatul Adab itu disusun oleh seorang pendidik yang berasal dari Pulau Ambon yang masih berdarah Arab, yaitu Almarhum Syehan Bachmid. Kemudian berdiri pula Taman Pendidikan Muhammadiyah yang dipelopori oleh Bongso Hi Badar.
Pada tahun 1938, atas insiatif M. Ali Kamaruddin “seorang tokoh pejuang perintis Kemerdekaan Indonesia” dengan dibantu oleh Sabtu Mataoga, M.S Djahir, Boci Hasan Esa dan Suryadi mendirikan sekolah Taman Siswa yang bertempat dikampung Kasturian. Sekolah yang mulanya hanya memiliki beberapa buah bangku, sedangkan muridnya makin bertambah banyak, terpaksa kegiatan dipindahkan ke gedung sekolah Islamiyah.
Munculnya Universitas Rakyat :
Berhubung dengan banyak permintaan wilayah-wilayah untuk perluasan Cabang-cabang PI. Dan kebutuhan rakyat Maluku Utara dalam konteks pendidikan, maka Partai PI membuat program Universitas Rakyat yang didirikan oleh Bapak Arnold Mononutu dengan dosen pembantu Dr. Chasan Busoiri dan At Soleman. Semua anggota dan staf Pimpinan dari Pengurus Besar Partai dan Cabang PI disemua wilayah diharuskan menjadi Siswa. Kuliah diberikan setiap malam mulai pada jam 19.30-23.30 selama satu tahun. Pusat kegiatan perkuliahan di Madrasah Islamiyah, dengan beberapa mata kuliah. Mata kuliah Pendidikan dan Pemerintahan diajarkan oleh Arnold Mononutu, Politik oleh At Soleman dan bidang pengetahuan umum oleh Dr. Chasan Busoiri.
Munculnya peristiwa barter senjata dengan Kopra lahir atas dasar situasi objektif, dimana Pemerintah Belanda membangun blok Negera baru yaitu NIT (Negera Indonesia Timur) yang terpisah dari Negera Republik Indonesia saat Proklamasi Kemerdekaan 1945. Menteri Negera Indonesia Timur (NIT) Anak Agung Gede, ia mencoba mempengaruhi beberapa tokoh pergerakan dan rakyat di Maluku Utura agar spakat membentuk Negara Indonesia Timur dibawah naungan Belanda. Tanggal 26 maret 1948 Panglima Belanda untuk Indonesia Timur (NIT) tiba di Ternate, namun kemunculan NIT mendapat protes yang sangat keras dari Persatuan Indonesia hingga terjadi peristiwa berdarah bagi anggota-anggota PI. Beberapa orang dipukul, disiksa bahkan dimutasi keluar dari Ternate. Kemudian pengurus besar Partai PI membentuk satu badan rahasia yang diberi nama BAKTI, badan ini bersifat ilegal dengan pimpinan badan BAKTI berjumlah 8 orang yaitu Kader Hi. Ahmad, M.S Djahir dkk. Tugas pokok badan ini mencari dan mengumpulkan sejata-sejata untuk persiapan melawan Pemeritahan Belanda (Negara Indonesia Timur). Bulan pertama BAKTI berhasil mengumpulkan 40 pucuk senapan yang berhasil diambil dari talaga/danau di Galela Halmahera bersama ribuan pulurunya, senjata ini dibuang oleh tentara Jepang saat mereka kalah melawan sekutu. Berhubung pada saat itu BAKTI baru mengumpulkan 40 pucuk senjata sehingga pemberontakan melawan Belanda belum dilaksanakan. Dari hasil rapat BAKTI salah satu jalan keluar untuk mendapat banyak senjata ialah melakukan barter kopra dengan senjata di Filipina. Sehingga Munaser Aziz ditugaskan ke Filipina dengan membawa 10 ton kopra pinjam dari orang tua Hi. Mare bernama Faray Aziz. Setelah ke Filipina untuk barter Kopra dengan senjata, senjata berhasil diperoleh sebanyak 1.000 pucuk lengkap dengan peluru termaksud senjata otomatis.
Secara historis kemunculan Sekolah Rakyat, Universitas Rakyat, Surat Kabar (Koran), Organisasi/Partai dan perlawanan rakyat Maluku Utara, tidak terlepas dari kesadaran politik rakyat Maluku Utara akibat kondisi objektif yang dirasakan secara Nasional di Nusantara khusus di Muluku Utara. Yang di eksploitasi, di jajah, di bunuh, di perbudak, di penjara dsb. Begitupun dengan kasadaran akan berorganisasi dan berpartai, tidak terlepas dari pengaruah semangat perlawaanan gerakan rakyat dan Organisasi di pulau Jawa yang merasakan nasib yang sama, yaitu sama-sama dijajah oleh Sistem Kolonialisme hingga membutuhkan persatuan Nasional menuju Pembebasan Nasional melawan Imperialisme.
Dari Organisasi Budi Mulia hingga barter senjata dengan kopra, menjadi bukti sejarah bahwa rakyat Maluku Utara adalah rakyat yang tidak mau dijajah dan memiliki jiwa perlawanan yang militan dalam perjuangan Kemerdekaan untuk bebas dari belenggu penindasan dan penghisapan secara ekonomi politik. Begitupun dengan kesadaran berorganisasi, berpartai dan berjuang demi kemanusian. Lahir atas dasar kesadaran Ideologi rakyat yang menyakini bahwa jalan menuju Pembenasan Nasional tidak bisa berjuang secara individu, lokolis/kedaerahan tapi harus membangun Persatuan Nasional dibawah kepemimpinan Organisasi dan Partai.
Demikian catatan-catatan tentang perjuangan rakyat Maluku Utara, semoga generasi muda dapat mengetahui dan melanjutkan cita-cita perjuangan yang belum usai yaitu Merdeka 100%…!!!
Sumber : Perjuangan Rakyat Maluku Utara Membebaskan Diri Dari Kolonialisme “Hi. Hamid Kotambunan”
Oleh : S.O**