Perempuan dan Perjuangan Kelas

Situasi dan Kemunculan Gerakan Perempuan


Dalam banyak kesempatan saya melihat perempuan indonesia lupa akan tanggung jawab sosialnya (sebagai manusia yang setera dengan laki-laki), dalam konteks perjuangan kelas. kebanyakan perempuan indonesia baik di kampus, pabrik, desa dll masih terpaku degan logika domestik semata, tanpa mau keluar dan mecari pengetahuan dan sebab-sebab penindasan perempuan yang terjadi. Selain budaya lama yang terus ditanamkan dalam benak kaum perempuan, agar tidak berpolitik, berorganisasi dan berjuang. Disebabkan pula, oleh karakter pendidikan indonesia baik dari tingkat SD hingga PT yang mengajarkan peserta didik untuk menghamba pada kepentingan modal (kapitlisme). Sehingga pendidikan tidak ubahnya seperti dogma yang mendorong peserta didik untuk tunduk dan patu. Akibatnya kaum perempuan mengalami diskriminasi diberbagai sektor, karena pendidikan formal yang diajarkan selalu tunduk pada kebijakan negera (sistem kapitalisme) dan kaum laki-laki (budaya patriarki).


Padahal dalam prefektif Islam pun posisi perempuan dan laki-laki adalah setera. Sehingga sebuah konsekuensi logis bila penciptaan Allah atas makhluk-Nya laki-laki dan perempuan memiliki missi sebagai khalifatullah fil ardh, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam dan manusia, hingga pada tingkat yang lebih maju yaitu suatu kesadaran akan tujuan menyelamatkan peradaban kemanusiaan tanpa penindsan. Dengan demikian, perempuan dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki.


Secara historis gerakan perempuan berawal dari ketidaksetaraan terhadap perempuan, baik secara sosial, ekonomi, politik dan budaya. Kemunculan Feminisme sebagai filsafat dan gerakan yang berkaitan dengan era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis 1792, mulai berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung dari pada laki-laki dalam kondisi sosial. Ketika itu, perempuan baik dari kalangan atas, menengah, ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas memiliki pekerjaan dll. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidak sama dengan laki-laki di hadapan hukum. Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, yaitu sebuah kota di selatan Belanda.


Kemunculan gerakan perempuan di Eropa–untuk menaikkan derajat kaum perempuan, kemudian disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul : Mempertahankan Hak-hak Wanita (Vindication of the Right of Woman) yang banyak mejelaskan prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari.


Beberapa tokoh Feminisme diantaranya : Foucault ia adalah tokoh yang terkenal dalam Feminisme walaupun dia tidak pernah membahas soal perempuan. Naffine (1997:69) ia adalah tokoh yang mengiakan sesuatu atas adanya kuasa atau power Kuasa. Derrida (Derridean) ia adalah tokoh yang mempertajam fokus pada bekerjanya bahasa (semiotika) dimana bahasa membatasi cara berpikir kita dan juga menyediakan cara-cara perubahan. Sally McFague ia adalah tokoh melalui pendekatan filsafat feminis, Sally McFague dalam bidang agama dapat ditemukan dalam karyanya yang berjudul Metaphorical Theology (1982). Luce Irigaray (1930) ia adalah tokoh dari seorang Perancis yang beraliran post-strukturalis. Dan beberapa tokoh lainnya. 


Selain tokoh-tokoh diatas bermunculan juga aliran-aliran dari Feminisme seperti Feminime Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Anarkis, Feminisme Postmoderen, Feminisme Postkolonial, Feminisme Nordic, Feminisme Masrxis, Feminisme Sosialis dll (Baca : Teori Gender/Feminisme). Dari beberapa aliran Feminisme ini, yang kemudian berkembang di Indonesia hingga mempengaruhi pergerakan perempuan maupun gerakan rakyat paska Reformasi hingga saat ini.


Jalan Keluar Menuju Pembebasan Perempuan


Setiap pertimbangan terhadap penindasan perempuan akan menimbulkan pemikiran kepada sebuah variasi dari fenomena psikologi, ekonomi, sosial, dan politik yang mempengaruhi kehidupan perempuan. Dari mulai pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, upah yang rendah dan segregasi pekerjaan berdasarkan gender. Diskriminasi dalam pendidikan dan institusi-institusi pekerjaan pun terjadi seperti pembagian kerja secara seksual, kerja domestik dan kontradiksi antara tuntutan domestik dan kerja.


Dalam formulasinya yang beragam, patriarki memposisikan karakteristik yang buruk dan atau niat dari laki-laki sebagai penyebab dari penindasan terhadap perempuan. Cara berpikir ini mengalihkan perhatian dari teori hubungan sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan di setiap ruang kehidupan dan menyalurkannya secara langsung terhadap laki-laki sebagai penyebab penindasan perempuan. Tapi disisi lain, laki-laki tidak memiliki posisi yang spesial dalam sejarah seperti itu, mandiri dari determinasi sosial. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk meninjau masa depan dan kekuasaan yang secara sadar digunakan untuk membentuk organisasi sosial sesuai keinginan mereka. Laki-laki sama seperti perempuan, ia adalah makhluk sosial yang karakteristiknya merefleksikan formasi sosial dalam mana mereka muncul sebagai agen-agen sosial. 


Marx mengingatkan kita untuk menghindari memproyeksikan ke masa lalu atau ke dalam sebuah sifat alamiah manusia yang universal atas penampakkan orang-orang di masa kini. Misalnya, individu yang secara alamiah terlibat dalam kompetisi pasar dan maksimalisasi keuntungan adalah produk masyarakat borjuis, dari sebuah periode sejarah tertentu (Marx, 1970, 189). Begitu pula, kita harus menguji kondisi-kondisi sejarah yang memproduksi dan mereproduksi hubungan sosial yang tidak setara saat ini dan bentuk-bentuk kesadaran di antara laki-laki dan perempuan yang tampak dalam berbagai fenomena yang menimbulkan pemikiran laki-laki ialah akar penindasan perempuan. Dan ini diikuti dengan pengujian/pemeriksaan atas kondisi-kondisi kapitalis. Untuk itu, dari titik berangkat teori dan metodologi Marx, dibutuhkan sebuah pemahaman tentang relevansi untuk analisis penindasan terhadap perempuan, dari ontologi dan metodologi dialektika dan materialis. Baca : (Martha A. Gimenez, Kapitalisme dan Penindasan Perempuan).


Jadi dalam menganalisa akar penindasan perempuan harus melalui pengujian/pemeriksaan yang mendalam secara sejarah, antologi, metodologi dialektika dan materialis, sehingga relevansi ketika kita menempatkan kontradiksi pokok penindasan perempuan dan mempermudah perempuan dalam menjawab perjuangan kelasnya.


Menurut teori dan perjuangan Feminisme Sosialis bahwa “tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan dan tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialisme”. Feminisme sosialis bertujuan untuk menghapuskan sistem kepemilikan pribadi (kapitalisme) dan digantikan dengan kepemilikan bersama (kolektif). Sebab Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat dalam hubungan keluarga. Agenda perjuagan menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki ialah mewujudkan masyarkat baru (Sistem Sosialisme). Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan atas ulah kapitalis yang menjadi beban bagi perempuan.


Lalu pertanyaan kemudian bagaimana gerakan perempuan mewujudkan sebuah gagasan “tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan, dan tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialisme”. Hal ini akan bisa terwujud jika perempuan memahami betul sebab-sebab kontradiksi pokoknya yaitu sistem kapitalisme, sebab kapitalisme dalam menindas rakyat mereka tidak mengenal jenis kelamin. Setelah perempuan memahami kontradiksi pokoknya akan dengan mudah kaum perempuan membangun persatuan dengan unsur-unsur rakyat tertindas lainnya. Namun persatuan tidaklah cukup untuk menjawab pembebasan perempuan tanpa membangun kekuatan politik rakyat (ormas/partai) yang mandiri. Karena dengan membangun Ormas dan Partai yang mandiri dan menggabungkan perempuan dengan laki-laki disetiap sektor, akan mempermudah pengambil alihan kekuasaan yang selama ini dimiliki kapitalisme lewat partai borjuasi. Sehingga jalan keluar menuju pembebasan perempuan ialah membangun Partai Massa Rakyat yang menyatukan seluruh unsur kelas tertindas (perempuan, pemuda, buruh, tani, mahasiswa dll) dalam menuju masyarakat sosialisme kedepan sebagai jalan keluar pembebasan perempuan.

Oleh : S.O**

Tinggalkan komentar