Mengenal Gagasan Pendidikan Tan Malaka

” Kekuasaan kaum modal berdiri atas didikan yang berdasarkan kemodalan. Kekuasaan rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan “


Datuk Ibrahim Sutan Malaka atau Tan Malaka, lahir 2 Juni 1897 di Padam Gadang Minangkabau dan meninggal dunia pada 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung Kediri Jawa Timur. Ia adalah Seorang Pejuang Kemerdekaan Indonesia dan Bapak Republik yang dilupakan oleh sejarah. Padahal beliau adalah Tokoh awal Indonesia yang mengkonsepkan tentang Negara Indonesia, lewat bukunya yang berjudul Naar De Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada Tahun 1925.

Sebelum jauh menjelaskan tentang konsep Pendidikan Tan Malaka. Saya sedikit mengulas kerterlibatan Tan Malaka dalam Gerakan Politik di Indonesia, baik pembangunan Organisasi maupun Partai Politik selama masa hidupnya. Serta Karya-karya (buku) yang ia tinggalkan sebagai panduan gerak bagi anak muda yang cinta terhadap rakyat dan anti penindasan.

Tan Malaka tercatat pernah memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1920-an dan pernah menjabat sebagai Wakil Komintern untuk wilayah Asia. Setelah kegagalan pemberontakan prambanan pada 1926, Pemerintah Hindia Belanda mendapat alasan kuat untuk membubarkan PKI. Ironisnya, bagi golongan oposisi menganggap Tan Malaka sebagai dalang kegagalan pemberontakan tersebut. Padahal ketika itu Tan Malaka berada di Manila Filipina, dan bahkan ia yang menolak rencana pemberontakan tersebut, karena ia melihat kekuatan partai dan kesiapan rakyat dibawah pengeruh PKI belum cukup kuat untuk melakukan pemberontakan (revolusi). Dalam mengilmiahkan apa yang dikritik dan dianalisa Tan Malaka terkait kegagalan pemberontakan 1926, Tan Malaka menulis buku yang berjudul Massa Aksi 1926, serta kalian juga bisa membaca buku Semangat Muda 1926 tentang bagaimana menjalankan organisasi revolusioner.

Dari kegagalan pemberontakan 1926 tersebut, dibawah Kepemimpinan Muso dan Alamin, akhirnya PKI dibubarkan oleh pemerintah Kolonialisme Belanda, serta para Pimpinan PKI pada saat itu banyak yang dibuang (diasingkan), termaksud Haji Misbach. Setelah itu, kemudian Tan Malaka bersama Jamaluddin Tamin dan Subakat mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok Thailand pada tahun 1927, sebagai partai yang bergerak dibawah tanah. Kemudian paska kemerdekaan 1945 Tan Malaka membangun Front Politik Multisektor yakni Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto pada 3 Januari 1946. Pada Kongresnya di Solo 15-16 Januari 1946, berhasil menghimpun hampir 140-an organisasi termaksud Serikat Buruh, Tani, Laskar, Partai dll. Dengan mengusung satu konsep Merdeka 100% dan tujuh minimum program. Karena Tan Malaka menganggap Kemerdekaan 1945 adalah kemerdekaan diplomasi (kompromi). Tidak hanya itu, pada 7 November 1948 Tan Malaka bersama Chaerul Saleh, Soekarni dan Adam Malik mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), tiga bulan setelah pendirian Partai Murba Tan Malaka ditembak mati di Kediri sehingga ia tidak berhasil membesarkan partai tersebut dan melanjutkan cita-cita Politiknya.


Tan Malaka juga dikenal sebagai salah satu tokoh revolusioner Indonesia yang banyak menciptakan teori-teori Marxsisme sesuai kondisi masyarakat Indonesia. Lewat Karya-karyanya dibidang Filsafat, Ekonomi, Politik, Sejarah, Sosiologi, Pendidikan dan juga sebagai seorang Jurnalis Sosialis. Seperti yang dijelaskan dalam buku-bukunya “Madilog, Pandangan Hidup, Parlemen atau Soviet, Semangat Muda, Massa Aksi, Gerpolek, Merdeka 100%, Dari Penjara ke Penjara Jilid I – III, Manifesto Jakarta” dan masih banyak lagi karya-karyanya. Kemudian yang terbaru, karya dari Herry A. Poeze seorang peneliti dan sejarawan asal Belanda yang menulis lima jilid buku dari hasil penelitiannya terkait riwayat hidup, perjungan dan perjalanan politik Tan Malaka semasa hidup, yang berjudul “Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia”.

Lalu bagimana peran Tan Malaka dalam mencerdaskan anak Bangsa, dan seperti apa konsep pendidikan yang ia cita-citakan di Indonesia?. Disini kita akan membahas secara konverhensif peran Tan Malaka dalam menggagas konsep pendidikan Indonesia selama masa hidup. Tan Malaka aktif menjadi seorang teoritikus Marxsis dan juga aktivis revolusioner yang selalu diburu oleh Polisi Belanda karena menentang kebijakan pemerintah Belanda pada masa itu. Sehingga konsep pendidikan beliau banyak yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Terkecuali dalam artikel SI Semerang dan Onderwijs, dimana Tan Malaka sempat membuat Brosur tentang konsep pendidkan yang ia cita-citakan. Namun terlanjur dibuang ke Belanda pada Maret 1922, karena ia menulis pamflet-pamflet kritik terhadap pemerintah Belanda dan mendorong berbagai pemogokan. Dari pembuangan tersebut, gagasan pendidikan Tan Malaka tidak lagi dilanjutkan dan nyaris mayoritas rakyat Indonesia tidak mengetahui konsep pendidikan Tan Malaka. Sebab, tidak pernah diajarkan dalam pendidikan formal di Indonesia (terkecuali bagi mereka yang mau belajar sejarah dan membaca literatur Tan Malaka).


Pada usia 12 Tahun sekitar 1909, Tan Malaka mendapat kesempatan belajar di Sekolah Pendidikan Guru yang didirikan oleh pemerintah Belanda yaitu Sekolah Rejo Bukit Tinggi. Dari sekolah tersebut Tan Malaka mulai belajar dan mengenal pendidikan, seperti pendapat Guru Belandanya G.H Horensma bahwa Tan Malaka adalah salah satu murid yang cerdas dan memiliki disiplin yang tinggi dalam belajar. Pada Tahun 1913 Tan Malaka lulus di sekolah tersebut, kemudian atas rekomendasi Gurunya dari Belanda, serta pinjaman dana dari para engku di Suliki sebesar Rp. 50 per bulan, akhirnya ia melanjutkan pendidikan lanjutan Guru di Balanda (Rijksweekschool) di Haerlam.


Di negeri Belanda Tan Malaka menemukan titik awal api perjuangan. Disana ia mulai mengenal Ideologi Marxsisme-Komunisme. Setelah ia banyak membaca dan belajar teori-teori revolusioner-sosialisme yang pada masa itu menjadi pedoman gerak bagi rakyat tertindas dibergai belahan Dunia, serta dibuktikan dengan kemenangan Revolusi Oktober Rusia tahun 1917. Kemudian dari perjalanan gerliyanya di Eropa mulai dari Belanda, Jerman, Rusia dll menggunakan Kereta Api Trans-Seberia, setiap kota-kota yang ia lewati dalam perjalanannya sembari membangun kekuatan anti penjajah. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa rakyat Indonesia selama ini dijajah oleh Kolonialisme Belanda.


Setelah perang Dunia I, Tan Malaka pulang ke Hindia Belanda (Indonesia) pada November 1919. Kemudian ia menjadi Guru di sekolah yang didirikan oleh perusahaan orang Eropa. Disana ia mulai mengajar anak-anak kuli kontrak (buruh perkebunan) di perkebunan tembakau milik orang Eropa tersebut di Deli. Karena atas ketimpangan sosial antara kaum buruh dan tuan tanah, Tan Malaka kemudian sempat membuat perkumpulan kaum buruh untuk melakukan perlawanan terhadap tuan tanah. Sehingga pada saat itu, perjuangan Tan Malaka tidak hanya mencerdaskan rakyat pribumi, tapi ia juga mendorong gerakan-gerakan politik dalam melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah.

Ketika kedatangan Samaun di Deli membawah semangat baru buat Tan Malaka, setelah berbincang dengan Samaun, Tan Malaka kemudian memutuskan untuk ke Semarang bersama Samaun pada tahun 1920. Dari Semerang, ia mulai melakukan gerakan politik dan gerakan pendidikan. Sebenarnya sejak 1916 SI Cabang Semarang sudah mengusulkan agar pengajaran rakyat Hindia Belanda (Indonesia) diatur dalam Standenscholl (Sekolah Negeri). Kemudian di Tahun 1917 SI Semarang juga mengusulkan agar semua rakyat tanpa terkecuali diterima di HIS (Holllandsch Inlandsche School) atau sekolah yang didirikan pemerintahan Kolonialisme Belanda pada masa itu. Namun usulan-usulan SI Semarang tidak diterima oleh pemerintah Kolonial. Sehingga dari situasi tersebut kemudian SI Semarang menyadari bahwa tidak akan mungkin mendorong sebuah sekolah yang berprefektif kerakyatan dibawah kekuasaan penjajah.


Ketika Tan Malaka masuk ke Semerang pada Tahun 1920, muncullah ide untuk membuat sekolah sendiri yang berdiri diatas kekuatan rakyat sendiri. Berkat insiatif Tan Malaka dan Samuan kemudian berdirilah Sekolah Rakyat pada tahun 1921. Seperti yang ditulis dalam brosur Semarang dan Onderwijs, Tan Malaka merumuskan tiga tujuan pendidikan, yaitu : memberikan kecakapan hidup bagi peserta didik (pelajar), memberi hak pergaulan bagi peserta didik (pelajar), mempersiapakan anak didik (pelajar) memperjuangkan hak rakyat dan Negara. Menurut Herry Poeze, Tan Malaka terinspirasi terkait pembangunan Sekolah Rakyat dari Belanda dan Rusia. Karena ia sempat membaca tulisan-tulisan di Rusia mengenai kurikulum sekolah komunis. Salain itu, Tan Malaka juga mendapat pengalaman tentang sekolah saat ia bekerja dan mengajar anak-anak buruh perkebunan tembakau di Deli.


Pada masa itu, selain Sekolah Rakyat yang dibangun Tan Malaka di Semarang. Ki Hadjar Dewantara juga mendirikan Sekolah Taman Siswa pada 3 juli 1922 di Yogyakarta, karena kegelisahan melihat pendidikan di Hindia Belanda (Indonesia) yang sangat diskriminatif. Kemudian beberapa lembaga Islampun mendirikan lembaga pendidikan sendiri seperti Muhammadiyah, NU dll. Dengan demikian, sekolah-sekolah yang didorong oleh rakyat pribumi saat itu mulai berkembang pesat di Hindia Belanda (Indonesia).

Berikut tiga tujuan konsep pendidikan menurut Tan Malaka :
1. Pendidikan keterlampilan atau Ilmu Pengetahuan seperti berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal penghidupan nanti dalam masyarakat kemodalan (masyarakat kapitalis). Artinya Pendidikan yang dibangun harus memberikan senjata yang cukup (pengetahuan) kepada peserta didik dalam perkembangan globalisasi seperti melatih kemampuan berhitung, melatih kemampuan menulis, melatih kemampuan membaca, melatih pengetahuan ilmu bumi dan belajar bahasa (bahasa Jawa, Melayu, Belanda dsb).
2. Pendidikan bergaul atau berorganisasi serta berdemokrasi. Untuk meningkatkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan terhadap diri sendiri serta harga diri dan cinta terhadap rakyat miskin. Artinya pendidikan yang dibangun harus memberikan hak kepada murid-murid secara Demokratis, baik kesukaan hidup, kesukaan pergaulan, kesukaan belajar, kesukaan membaca, serta hak beroragnisasi dalam mengembangkan potensi diri dan kepercayaan diri untuk cinta terhadap rakyat.
3. Pendidikan yang berorientasi pada rakyat kebawah (rakyat miskin) atau mempersiapakan anak didik yang siap memperjuangkan hak rakyat dan Negara. Artinya pendidikan yang dibangun harus menyiapkan murid-murid yang cerdas, militan dan merakyat dalam menuju kewajiban mereka kelak terhadap berjuta-juta rakyat miskin.


Peraturan Pendidikan Sekolah Rendah (Onderbouw) : Pendidikan yang dibangun bukan untuk mencari keuntungan atau profit. Akan tetapi, membangun watak dan sifat peserta didik untuk senangtiasa berpihak terhadap segenab rakyat tertindas. Sehingga tugas Guru ialah membekali anak-anak yang cukup membawa senjata untuk perjuangan mereka kelak dalam hal mecari pakaian dan makanan buat kehudupan sehari-hari setelah lulus dari Sekolah Rakyat. Sebab ia masih Kanak-kanak dan belum boleh bekerja keras dan berhak atas kesukaannya bergaul sebagai kanak-kanak. Jadi kalau kita sambungkan perkumpulan dalam sekolah dengan perkumpulan (organisasi) Ibu Bapak murid-murid tersebut. Maka kelak, ketika ia keluar dari sekolah tidak akan berpisah dengan Ibu Bapaknya dan akan melanjutkan perjuangan Ibu Bapak mereka dalam perkumpulan (organisasi dan partai). Ringkasnya :
– Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan mengurus sendiri berbagai vereeniging (perkumpulan persatuan), yang berguna buat lahir dan batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan perkumpulan persatuan tadi, anak-anak itu sudah belajar membuat kerukunan dan sudah mengerti pergaualan hidup.
– Di sekolah diceritakan nasibnya kaum melarat di Hindia (Indonesia) dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan penderitaan rakyat. Selain itu, membangun hati belas kasihan pada kaum terhina tersebut. Berhubung dengan hal ini, kita menunjukan ke mereka akan kewajiban kelak untuk membela berjuta-juta kaum proletariat.
– Dalam vergadering (pertemuan) SI dan buruh. Maka murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri suaranya kaum kromo (rakyat miskin). Dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan dengan usianya (umur). Pendeknya diajarkan berpidato.
– Sehingga kalau kelak ia besar, maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela rakyat. Tidak hanya dalam buku atau kenangan-kenangan saja, tapi akan menjadi watak dan kebisaan masing-masing.

Peraturan Pendidikan Sekolah Tengah (Middenbouw) : Menciptakan murid-murid yang siap sediah mengajar kembali di Sekolah Rakyat, mengingat kekurangan tenaga pengajar pada masa itu. Sementara di kota-kota lain muridnya sudah siap hanya saja kekurangan Guru. Sehingga Guru menjadi kebutuhan pada masa itu. Sebab itulah menurut Tan Malaka kita sendiri yang harus menciptakan Guru dari Sekolah Rakyat. Maka setiap sore diadakan kursus mengajar murid-murid SI Semarang yang kelas V, VI dan VII (murid yang berumur 15 tahun keatas) menjadi Guru buat adik-adiknya di Sekolah Rendah yang berumur 12 tahun. Yakni pada anak-anak yang baru masuk sekolah menjadi murid yang besar tadi. Setiap harinya mereka belajar mendidik, tidak hanya teori saja, tapi juga dalam praktek. Kerja murid-murid diatas dari kelas V, keluaran Sekolah Kelas II (Sekolah Tengah) yang berumur 15 tahun keatas seperti berikut :
– Dari pukul 8 – 1 (pagi) ia meneruskan pelajaran di Sekolah. Karena ia harus mengajarkan murid-murid selama ¼ jam untuk membantu Guru-guru di Kelas I (Sekolah Rendah) dan Kelas II (Sekolah Tengah) semacam guru bantu.
– Setiap sore murid-murid besar diberi ilmu pendidikan (pedagogie), supaya teorinya buat mengajar semacam Guru.


Sementara sistem gaji Guru yang diberlakukan pada masa itu adalah murid yang sudah mendapatkan kursus satu tahun, jadi dihitung berhak mengajar di Kelas I (Sekolah Rendah) SI School dengan gajinya f 40,-. Kalau murid yang sudah dapat kursus dua tahun, jadi dihitung berhak mengajar di Kelas II (Sekolah Tengah) SI School, maka gajinya kira-kira f 50,-. Sehingga jika Guru-guru tadi sudah berhak mengajar di Kelas VII SI School dan umurnya rata-rata 22 tahun, maka ganjinya bisa sekitar f 100,-. Kalau sekolahnya maju dan muridnya bertambah, tentunya gaji Guru akan sempurna.


Sedangkan konsep pendanaan dalam Sekolah Rakyat tersebut, biasanya didapatkan dari iuran orang tua murid dan penggalangan dana lewat usaha mandiri yang dibangun sesuai kemampuan murid secara kreatif, seperti mengajarkan bertukang pada anak-anak yang besar yang bisa ukir-mengukir membuat bangku, meja, kursi dll. Artinya urusan pertukangan dan administrasi akan jatuh di tangan murid-murid sebagai peraturan Koperasi yang dibangun. Sehingga anak-anak lulusan Sekolah SI kedepan bisa hidup merdeka dengan usaha yang dibangun mereka sendiri. Jadi pemuda-pemuda keluaran kursus SI Semarang bisa jadi Guru di SI School lainnya. Dan buat anak-anak keluaran Kelas II Schoool juga diterima secara terbuka untuk memimpin gerakan rakyat, baik yang kecil maupun yang besar. Karena setelah sekolah maka Guru-guru bisa membela rakyat dan memimpin perkumpulan politik atau menjalankan ilmu yang ia dapatkan dari sekolah tersebut secara teori dan praktek untuk membela rakyat tertindas.


“ Bila kaum muda yang terpelajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur bersama masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali “.


Oleh : S.O**


Referensi :
Brosur : Semarang dan Onderwijs. Tentang tiga tujuan konsep Pendidikan Tan Malaka.
– Buku : Tan Malaka Untuk Pemula. Yang diterbitkan oleh : Republik Buku Malaysia.

Tinggalkan komentar