Natal dan Kisah Perjuangan Yesus

Dalam Buku Pandangan Hidup karya Tan Malaka, bagian Di Sekitar Nabi Isa, menjelaskan bahwa Isa/Yesus mengajarkan kita baik yang dituliskan dalam Kitab Injil Tua dan Injil Baru berbunyi “Kalau pipi kirimu dipukul orang, berikanlah pipi kananmu kepadanya buat dipukul pula”. Begitupun Isa/Yesus menegaskan bahwa “Saya tidak datang untuk berdamai, melainkan untuk berperang”. Jelas disini, kelahiran atau kedatangan Yesus Kristus ialah untuk membebaskan umatnya dari belenggu penindasan dan menganjurkan anti terhadap perbudakan di masa itu.

Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam perjanjian baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka dimana Yesus berada. Natal dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran” adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun, pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Ketika Natal sebagai hari kebahagiaan dan kemenangan Umat kristiani, yang dimana mereka yakini sebagai hari kelahiran Yesus, maka sudah selayaknya mengenal sejarah kelahiran Yesus dan perjuangannya. Sebab kelahiran Yesus membawa nafas CINTA KASIH dan perjuangan kelas, dimana ia bangkit sebagai seorang pemberontak dari daerah Galilea dan terang-terangan membela kaum Murba (kaum tertindas) menghadapi kaum Rabbi (pendeta) yang menindas dan menjadi kaki tangan kekuasaan Romawi di masa itu.

Yesus juga melimpahkan segala kasih sayangnya serta mengorbankan jiwanya terhadap kaum Murba (kaum tertindas), yang memang melarat hidupnya di masa itu, dan bersemangat dalam memimpin pemberontakan untuk bebas dari penindasan kekuasaan Romawi.

Kalau Yesus menganjurkan sikap bermaaf-maafan, menganjurkan sikap “pipi kiri dipukul, berikanlah pipi kanan”, maka sikap itu terutama dimaksudkan bagi segenap kaum Murba (kaum tertindas). Terhadap kaum Rabbi (pendeta) dengan jelas Yesus menganjurkan sikap menentang, yakni kalau perlu dengan senjata ditangan untuk menghancurkan kaum Rabbi (pendeta) yang penindas di masa itu.

Apa perjungan kongkrit Yesus?. Yaitu ia rela di salib demi menanggung dosa dari umatnya (kaum tertindas). Sehingga tugas kaum Kristus saat ini, yang meyakini Yesus sebagai contoh tauladan di dunia dan akhirat, ia harus menjadi garda terdepan dalam perjuangan kelas untuk membebaskan kaum tertindas (kaum murba) Indonesia dan dunia dari belenggu penindasan sistem Kapitalisme-Imperialisme.

Selamat merayakan Hari Raya Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, bagi saudara-saudaraku umat kristiani di seluruh dunia. Semoga kita semua berada dalam cinta kasih demi pembebasan umat manusia.

Oleh : S.O**

Tinggalkan komentar